Kamis, 03 September 2009
Minggu, 30 Agustus 2009
Nyehatke Awak Nganggo poso
Oleh : Burhanudin Tsani,S.Pd OK
Sopo siro ing ngalam donya meniko ingkang mboten nate nandang gerah ? Ini sebuah pertanyaan bodoh, karena setiap manusia dimuka bumi ini pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan serta proses penuaan ( aging) sehingga pasti mengalami sakit atau gangguan tubuh yang bersifat degeneratif.
Penyakit = gangguan tubuh dimana sistema fungsional jaringan tubuh yang terstruktur dan sistematis mengalami ketidaksinkronan / ketidakharmonisan yang dapat dirasakan secara fisik dan psikis dan bisa berakibat lebih jauh lagi berupa traumatic sehingga bisa menimbulkan keputus-asaan pada penderitaan. Satu contoh Dr.Tanner, seorang dokter dari Duluth, Minnesota mengalami gangguan fungsional tubuh berupa penyakit asma kronis dan reumatik yang terjadi pada tahun 1877. Sakit luar biasa dialaminya. tujuh orang dokter sejawatnya dalam proses therapy / pengobatan tetapi semuanya “angkat tangan” alias gak iso ngobati.
Cerita akhir seorang dokter ini adalah mencoba bunuh diri dengan cara melaparkan diri selama berhari-hari (euthanasia pasif), dia berharap pada hari ke 10 akan meninggal dunia dengan tenang. Orang berencana , Tuhan yang menentukan, dan ternyata pada hari kelima dalam upaya bunuh diri dia mengalami kejadian yang tidak diharapkan , dia tidur nyenyak dan setelah dilanjutkan proses itu sampai hari ketujuh dia merasakan hal yang luar biasa, dia merasakan “seperti masih muda”. Akhirnya dia melanjutkan puasanya hampir satu bulan dengan pengawasan teman sejawatnya. Kesempatan hidup sampai umur 90 tahun didapatkannya dengan berpuasa, hal yang semula tidak disadari akhirnya memberi manfaat bahkan tanpa merasakan lagi gejala sakit reumatik dan asmanya. Sebuah true story (kisah nyata) yang kesaksian ( testimony)-nya diungkap dalam kajian ilmiah medis.
The National Institut on Aging sebuah lembaga penelitian dimana Mark P.Mattson, bersama tim penelitiannya melakukan eksperimen tentang manfaat puasa, hal ini dilakukan karena diilhami oleh kejadian kesembuhan penyakitnya Dr.Tanner .Eksperimen penelitiannya dengan menggunakan tiga kelompok tikus. Kelompok A adalah kelompok tikus yang diberikan makan secara terus menerus, kelompok B adalah kelompok tikus dengan pemberian makan dengan diet ketat dan kelompok C adalah kelompok tikus dengan pemberian makan dan puasa berselang hari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa kelompok tikus yang diberikan makan dan puasa ternyata memiliki kadar gula dan insulin yang rendah dan mengalami masa hidup lebih lama dibandingkan dua kelompok lainnya dan ketika diinjeksikan zat racun /toksin dalam hippocampus yang terletak didalam otaknya maka tikus tersebut mengalami tingkat antibody /daya tahan tubuh yang lebih baik. Jadi Mark P.Mattson berkesimpulan bahwa nutrient atau makanan yang masuk dan menyebabkan tingkat low stress atau tekanan ringan pada seluruh sel otot tubuhnya yang direspon dengan meningkatkan kemampuan sel untuk menanggulangi adanya tingkat stress yang lebih berat.
Firman Allah SWT dalam QS : Al Baqarah-18 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”, Allah SWT tidak akan menjerumuskan kaumnya dengan adanya kewajiban untuk beribadah puasa, ibadah puasa itu di-adaptasi-kan dengan segala kemampuan fisik dan psikisnya.
Islam memperkenalkan ibadah puasa ini dengan maksud untuk meningkatkan rasa spiritualnya dan memperbaiki kesehatan fisiknya. Banyak manfaat puasa khususnya untuk upaya peningkatan kesehatan fisik, seperti : Ibadah puasa sebagai penentu kekuatan proses terapi tubuh yang berfungsi sebagai pemulihan kondisi kesehatan seseorang termasuk diabetes mellitus, hipertensi, alergi, asma, bahkan jantung. Mekanisme penyembuhan sendiri yaitu proses memperbaiki dan memperkuat organ-organ yang mengalami kerusakan ,pada tubuh orang yang berpuasa akan timbul pada saat periode pengistirahatan secara fisik misalnya saat alat pencernaannya bekerja ringan karena pengaturan makanan yang masuk. Puasa = mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 18 jam. Puasa =istirahatkan organ vital selama 14 jam.Puasa = mengaktifkan sistem pengendalian kadar gula darah. Apabila kadar gula darah turun, maka cadangan gula dalam bentuk glikogen yang ada di hati mulai kita gunakan.Namun penderita penyakit hati yang berat, seperti sirosis hati, dianjurkan untuk tidak berpuasa, karena berisiko terjadi penurunan gula darah (hipoglikemia), akibat cadangan glikogen hati sangat berkurang. .Puasa kesempatan menurunkan berat badan bagi yang gemuk, dengan cara tidak makan berlebihan pada waktu buka, sehabis buka dan sewaktu sahur. Kadar lemak darah, kolesterol dan trigliserida bisa berkurang karena tingkat konsumsi makanan gorengan dan bersantan berkurang.Bagi yang hipertensi, tekanan darah dapat turun, jika selama berbuka hingga sahur tidak makan makanan yang asin-asin dan tidak lupa minum obat hipertensi pada waktu sahur. Puasa = mengontrol gula darah. Tidak semua penderita diabetes mellitus aman untuk puasa. Yang aman adalah penderita diabetes yang kadar gulanya kurang dari 200 mg/dl, dan mendapat pengobatan bentuk tablet yang diminum..Para penderita sakit maag atau gastritis yang ringan boleh puasa, kadang-kadang keluhannya berkurang. Bila berat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dulu apakah boleh puasa atau tidak.
Jadi, untuk mencapai keadaan tubuh yang sehat, maka berpuasalah menurut ketentuan yang berlaku seperti yang telah di-syari’at –kan dan diet sehat ala Nabi Muhammad SAW. Makanan yang masuk sebaiknya tidak lebih dari tiga seperempat isi perut dan makanlah sesuai kapasitas perut yaitu sepertiga berisi makanan, sepertiga berisi air dan sepertiga lagi berisi udara. Mengkonsumsi makanan yang sehat yaitu dengan memperbanyak air putih, buah-buahan dan sayuran hijau atau dengan menerapkan pola gizi seimbang dan pengaturan makanan berat saat malam hari setelah shalat tarawih.. Olahraga ringan seperti jalan kaki, jogging, senam aerobic low impack, olahraga pernafasan, olahraga specialisasinya atau olahraga adaptif / adaptif sports (olahraga yang disesuaikan dengan kapasitas fungsional tubuhnya) misalnya penderita stroke dg olahraga sambil duduk atau rebahan, penderita asthma dengan senam tongkat, penderita rematik dan asam urat dengan latihan sambil tiduran dan lainnya. Wallahu’alam bissawab.........
Bila ada kesalahan adalah wajar & bila benar datangnya hanya dari Allah ta’ala....
(Tulisan ini bisa diakses di www.pemudajumatkliwon.blogspot.com)
Oleh : Burhanudin Tsani,S.Pd OK
Sopo siro ing ngalam donya meniko ingkang mboten nate nandang gerah ? Ini sebuah pertanyaan bodoh, karena setiap manusia dimuka bumi ini pasti mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan serta proses penuaan ( aging) sehingga pasti mengalami sakit atau gangguan tubuh yang bersifat degeneratif.
Penyakit = gangguan tubuh dimana sistema fungsional jaringan tubuh yang terstruktur dan sistematis mengalami ketidaksinkronan / ketidakharmonisan yang dapat dirasakan secara fisik dan psikis dan bisa berakibat lebih jauh lagi berupa traumatic sehingga bisa menimbulkan keputus-asaan pada penderitaan. Satu contoh Dr.Tanner, seorang dokter dari Duluth, Minnesota mengalami gangguan fungsional tubuh berupa penyakit asma kronis dan reumatik yang terjadi pada tahun 1877. Sakit luar biasa dialaminya. tujuh orang dokter sejawatnya dalam proses therapy / pengobatan tetapi semuanya “angkat tangan” alias gak iso ngobati.
Cerita akhir seorang dokter ini adalah mencoba bunuh diri dengan cara melaparkan diri selama berhari-hari (euthanasia pasif), dia berharap pada hari ke 10 akan meninggal dunia dengan tenang. Orang berencana , Tuhan yang menentukan, dan ternyata pada hari kelima dalam upaya bunuh diri dia mengalami kejadian yang tidak diharapkan , dia tidur nyenyak dan setelah dilanjutkan proses itu sampai hari ketujuh dia merasakan hal yang luar biasa, dia merasakan “seperti masih muda”. Akhirnya dia melanjutkan puasanya hampir satu bulan dengan pengawasan teman sejawatnya. Kesempatan hidup sampai umur 90 tahun didapatkannya dengan berpuasa, hal yang semula tidak disadari akhirnya memberi manfaat bahkan tanpa merasakan lagi gejala sakit reumatik dan asmanya. Sebuah true story (kisah nyata) yang kesaksian ( testimony)-nya diungkap dalam kajian ilmiah medis.
The National Institut on Aging sebuah lembaga penelitian dimana Mark P.Mattson, bersama tim penelitiannya melakukan eksperimen tentang manfaat puasa, hal ini dilakukan karena diilhami oleh kejadian kesembuhan penyakitnya Dr.Tanner .Eksperimen penelitiannya dengan menggunakan tiga kelompok tikus. Kelompok A adalah kelompok tikus yang diberikan makan secara terus menerus, kelompok B adalah kelompok tikus dengan pemberian makan dengan diet ketat dan kelompok C adalah kelompok tikus dengan pemberian makan dan puasa berselang hari. Hasil penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa kelompok tikus yang diberikan makan dan puasa ternyata memiliki kadar gula dan insulin yang rendah dan mengalami masa hidup lebih lama dibandingkan dua kelompok lainnya dan ketika diinjeksikan zat racun /toksin dalam hippocampus yang terletak didalam otaknya maka tikus tersebut mengalami tingkat antibody /daya tahan tubuh yang lebih baik. Jadi Mark P.Mattson berkesimpulan bahwa nutrient atau makanan yang masuk dan menyebabkan tingkat low stress atau tekanan ringan pada seluruh sel otot tubuhnya yang direspon dengan meningkatkan kemampuan sel untuk menanggulangi adanya tingkat stress yang lebih berat.
Firman Allah SWT dalam QS : Al Baqarah-18 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”, Allah SWT tidak akan menjerumuskan kaumnya dengan adanya kewajiban untuk beribadah puasa, ibadah puasa itu di-adaptasi-kan dengan segala kemampuan fisik dan psikisnya.
Islam memperkenalkan ibadah puasa ini dengan maksud untuk meningkatkan rasa spiritualnya dan memperbaiki kesehatan fisiknya. Banyak manfaat puasa khususnya untuk upaya peningkatan kesehatan fisik, seperti : Ibadah puasa sebagai penentu kekuatan proses terapi tubuh yang berfungsi sebagai pemulihan kondisi kesehatan seseorang termasuk diabetes mellitus, hipertensi, alergi, asma, bahkan jantung. Mekanisme penyembuhan sendiri yaitu proses memperbaiki dan memperkuat organ-organ yang mengalami kerusakan ,pada tubuh orang yang berpuasa akan timbul pada saat periode pengistirahatan secara fisik misalnya saat alat pencernaannya bekerja ringan karena pengaturan makanan yang masuk. Puasa = mengistirahatkan saluran pencernaan (usus) beserta enzim dan hormon yang biasanya bekerja untuk mencerna makanan terus menerus selama kurang lebih 18 jam. Puasa =istirahatkan organ vital selama 14 jam.Puasa = mengaktifkan sistem pengendalian kadar gula darah. Apabila kadar gula darah turun, maka cadangan gula dalam bentuk glikogen yang ada di hati mulai kita gunakan.Namun penderita penyakit hati yang berat, seperti sirosis hati, dianjurkan untuk tidak berpuasa, karena berisiko terjadi penurunan gula darah (hipoglikemia), akibat cadangan glikogen hati sangat berkurang. .Puasa kesempatan menurunkan berat badan bagi yang gemuk, dengan cara tidak makan berlebihan pada waktu buka, sehabis buka dan sewaktu sahur. Kadar lemak darah, kolesterol dan trigliserida bisa berkurang karena tingkat konsumsi makanan gorengan dan bersantan berkurang.Bagi yang hipertensi, tekanan darah dapat turun, jika selama berbuka hingga sahur tidak makan makanan yang asin-asin dan tidak lupa minum obat hipertensi pada waktu sahur. Puasa = mengontrol gula darah. Tidak semua penderita diabetes mellitus aman untuk puasa. Yang aman adalah penderita diabetes yang kadar gulanya kurang dari 200 mg/dl, dan mendapat pengobatan bentuk tablet yang diminum..Para penderita sakit maag atau gastritis yang ringan boleh puasa, kadang-kadang keluhannya berkurang. Bila berat, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter dulu apakah boleh puasa atau tidak.
Jadi, untuk mencapai keadaan tubuh yang sehat, maka berpuasalah menurut ketentuan yang berlaku seperti yang telah di-syari’at –kan dan diet sehat ala Nabi Muhammad SAW. Makanan yang masuk sebaiknya tidak lebih dari tiga seperempat isi perut dan makanlah sesuai kapasitas perut yaitu sepertiga berisi makanan, sepertiga berisi air dan sepertiga lagi berisi udara. Mengkonsumsi makanan yang sehat yaitu dengan memperbanyak air putih, buah-buahan dan sayuran hijau atau dengan menerapkan pola gizi seimbang dan pengaturan makanan berat saat malam hari setelah shalat tarawih.. Olahraga ringan seperti jalan kaki, jogging, senam aerobic low impack, olahraga pernafasan, olahraga specialisasinya atau olahraga adaptif / adaptif sports (olahraga yang disesuaikan dengan kapasitas fungsional tubuhnya) misalnya penderita stroke dg olahraga sambil duduk atau rebahan, penderita asthma dengan senam tongkat, penderita rematik dan asam urat dengan latihan sambil tiduran dan lainnya. Wallahu’alam bissawab.........
Bila ada kesalahan adalah wajar & bila benar datangnya hanya dari Allah ta’ala....
(Tulisan ini bisa diakses di www.pemudajumatkliwon.blogspot.com)
Rabu, 26 Agustus 2009
Selasa, 25 Agustus 2009
aktivitas pemuda jumat kliwon....




jamaah takjil di lapangan badminton depan masjidpengajian songsong ramadhan 1430 H
sambutan Bp Rustam Fathoni S.Pd ut persiapan pelatihan internet bagi pemuda dan remaja
pengajian songsong ramadhan oleh bp drs Ghofar Latiefpenyerahan kenang-kenangan oleh ketua pemuda jumat kliwon Maksun Bashory pada ustad H Muhtarom Masyhudi dan Ustad Sarjuni Siswo Suwarno acara pelatihan merawat jenazah
praktek membungkus jenazah
Langganan:
Komentar (Atom)

















